google-site-verification=BmoRrfgrm78d67lLrJFzT-x-PUwK9y-5TI9jvRHifO8 IBX5B7AA6164BFDA Usaha Berbahan Dasar Limbah Tetap Moncer - Sumber Informasi

Usaha Berbahan Dasar Limbah Tetap Moncer

Sumber-Informasi.com - Limbah identik dengan kotor, mencemari lingkungan dan tak berharga. Tapi di tangan-tangan orang kreatif, limbah ini diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi. Lihatlah limbah filter oil yang diolah menjadi lampu unik atau limbah kantong kain dari mesin penghisap debu yang dengan cerdas dibuat menjadi tas cantik serta limbah kayu yang dibuat menjadi mainan edukatif yang tidak hanya menarik tapi memperi nilai pembelajaran bagi anak-anak. Di zaman sekarang ini kreativitas menjadi kunci agar bisa tetap survive di usaha ini. Seberapa besar peluang usaha di usaha berbahan dasar limbah ini?

Jika di rumah Anda ada kantong kain pel yang sudah tidak terpakai, sisa-sisa kayu yang sudah tak berguna atau filter oli bekas yang tidak lagi digunakan, jangan buru-buru membuangnya! Siapa tahu, itu merupakan ladang penghasilan Anda. Tak percaya, lihatlah Yeyen Komalasari, Pemilik G-One yang secara tak sengaja menekuni usaha limbah kantong kain dari mesin penghisap debu. Ternyata usaha itu memiliki prospek yang jelas karena memiliki banyak peminat.


Usaha ini memiliki potensi pasar yang sangat bagus karena belum banyak yang terjun di usaha ini. Hingga memberi peluang dan celah yang besar bagi siapa saja yang ingin menekuninya. Tak salah, jika usaha ini akan terus berkembang ke depannya. Menariknya, usaha seperti ini tidak hanya berkembang di kota-kota besar tapi juga di daerah karena kecenderungan makin banyak masyarakat yang ingin menggunakan produk yang tidak umum dan memiliki keunikan. Paling tidak, para konsumen ingin mencoba memakai produk yang beda.

Pola hidup yang konsumtif juga mendorong makin ramainya orang yang memilih menggunakan produk yang unik, walaupun harganya relatif lebih mahal dibanding produk lain.

Harus diakui bahwa keunikan produk berbahan limbah menjadi nilai jualnya. Karena itu pelaku usaha harus rajin menghadirkan inovasi dengan produk yang dibuat sehingga tetap diminati pasar. Seperti yang dilakukan Nova Napitupulu, yang baru dua tahun terjun di usaha ini dan mencoba menghadirkan produk yang unik.

Bayangkan, ia membuat produk lampu dari filter oli bekas. Menarik bukan? Dengan keunikan tersebut produknya tidak hanya diminati pasar lokal tapi juga pasar mancangera seperti Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Biasanya orang-orang bule menyukai suatu produk yang memiliki nilai seni tinggi, karena proses pengolahan yang tidak simple.

Produk yang unik, tanpa ada promosi tidak akan dikenal masyarakat. Karena itu, bagi pelaku usaha yang baru terjun di usaha ini dianjurkan memasarkan lewat pameran. Mengapa? Karena produk ini bukanlah produk massal tapi produk inovatif nan kreatif sehingga dibutuhkan pengenalan kepada publik. Apalagi usaha ini banya ditekuni oleh pelaku usaha skala rumahan sehingga biasanya memiliki budget promosi yang terbatas.

Akan lebih baik, jika pelaku usaha ini menjadi mitra binaan dari salah perusahaan sehingga ketika ada pameran maka bisa diajak tanpa mengeluarkan biaya. Tapi kalaupun mengeluarkan biaya untuk pameran, budget yang dikeluarkan tidak terlalu besar dibanding melakukan promosi dengan beriklan di media massa ataupun elektronik. Pameran menjadi tempat strategis karena terjadi pertemuan antara buyer dengan produsen.

Selain pameran, media internet sebagai sarana berpromosi juga efektif. Dengan promosi melalui dunia maya, usaha tidak hanya dikenal di tempat asalnya tapi bisa menembus pasar luar seperti Lampung, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, bahkan luar negeri.

Yang memberi nilai tambah dari cara promosi seperti ini adalah pelaku usaha tidak membutuhkan showroom untuk menjual produknya tapi cukup dengan men-display produk di website. Lebih murah berpromosi di media seperti ini, karena tidak mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Dengan berkembangnya usaha berbahan limbah dan makin variatif para pelaku usaha melakukan promosi, bukan berarti usaha ini tanpa kendala. Persoalan klasik yang dihadapi pengusaha skala rumahan adalah kualitas SDM yang terbatas. Untuk mensiasati hal itu, maka memberi pelatihan bagi karyawan merupakan kunci untuk membuat usaha ini bertahan dan bahkan berkembang pesat.
telegram

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Bisnis

Gaya Hidup

Kecantikan

Kuliner

Fashion

Herbal

Kesehatan

Pendidikan