Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
iklan space 728x90px

Tangani Kanker Paru Sejak Dini

Sumber-Informasi.com - Terdeteksi lebih cepat, ditangani lebih cepat, maka kemungkinan sembuh dari kanker akan menjadi lebih tinggi. Ya, meski kanker merupakan penyakit mematikan, penanganan di fase awal bisa menuntaskan sel kanker itu. Termasuk juga kanker paru yang saat ini merupakan kanker yang paling mematikan di Singapura.

Menyebut kanker paru, kita pasti langsung mengaitkannya dengan aktivitas merokok, baik dalam posisi sebagai perokok aktif maupun perokok pasif. Sayangnya, kita yang tidak mengisap rokok pun berisiko terkena kanker paru karena menghirup asapnya.

Menurut Chin Tan Min, dokter konsultan senior bidang onkologi medis dari Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura, merokok merupakan faktor risiko terbesar yang mengakibatkan kanker paru. Para perokok memiliki kemungkinan terkena kanker paru hingga 15-30 kali lipat.

Perokok yang memulai kebiasaan buruknya itu pada usia dini dengan durasi merokok yang lebih lama, kemungkinan terkena kanker paru akan semakin tinggi. Mereka yang berhenti merokok tentu saja menurun kemungkinannya untuk terkena kanker paru.

Penting untuk diingat, meskipun tidak merokok, Anda tetap bisa terkena kanker paru. Faktor risiko lainnya adalah karena menghirup asap rokok, terpapar bahan kimia tertentu seperti asbestos dan karsinogen lain. Begitu juga mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker paru.

Oleh karena itulah, dia menekankan pentingnya perawatan sejak dini agar kanker paru bisa disembuhkan. Kanker paru memang tidak memiliki gejala awal yang jelas. Gejala itu justru timbul ketika kanker paru sudah tumbuh lebih berbahaya, seperti batuk terus memburuk, napas menjadi pendek, sesak dada terus-menerus, batuk darah, serak, lelah sepanjang hari, dan penurunan berat badan.

Batuk kronis tidak selalu menandakan kanker paru. Akan tetapi, kalau sudah batuk terus-menerus, apalagi lebih dari sebulan, sebaiknya segera diperiksa. Kebanyakan kanker paru, sayangnya, terdiagnosis setelah penyakit itu masuk tahap lanjut. Biasanya, muncul gejala seperti batuk berdarah, napas pendek, kurang nafsu makan, dan dada sakit.

Dua jenis terapi
Menurut Chin Tan Min, jika kanker masih berada di tahap satu dan dua, perawatan yang dianjurkan biasanya berupa operasi untuk membuang sel tumor. Operasi dianggap sebagai cara penyembuhan terbaik. Operasi pembuangan sel tumor itu bisa saja dilanjutkan dengan kemoterapi untuk membersihkan sel kanker secara total untuk mencegah selnya tumbuh kembali.

Untuk kanker paru pada tahap lanjut, perawatan yang dilakukan biasanya kombinasi terapi radiasi dan atau kemoterapi. Ketika kemoterapi dilakukan pada pasien kanker paru stadium 4, rata-rata tingkat keberhasilan dan kemungkinan bertahan hidup mencapai 6-8 bulan.

Saat ini, PCC sudah menerapkan terapi bertarget (targeted therapy) sejak 2004 dan imunoterapi sejak 2015. Kedua terapi ini telah membuat rata-rata tingkat keberhasilan dan kemungkinan bertahan hidup lebih panjang, menjadi 2-3 tahun.

Terapi dengan target memakai beberapa obat untuk mengakhiri pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Contohnya, kanker paru kadang-kadang mengalami mutasi pada gen epidermal growth factor receptor (EGFR), yang mengakibatkan sel kanker bertumbuh dan membelah dengan cepat. Obat-obatan pencegah EGFR itu mampu menghentikannya.

Begitu pun ketika pasien mengonsumsi obat-obatan pencegah anaplastic lymphoma kinase (ALK). Pasien yang mengonsumsi obat pencegah ALK memiliki kemungkinan hidup yang bertambah 2-3 tahun.

Perawatan imunoterapi diberikan kepada pasien supaya sistem imun pada tubuh pasien akan berkembang sehingga bisa membunuh sel kanker. Imunoterapi bahkan bisa menyingkapkan sel tumor yang tersembunyi sehingga sistem imun itu sendiri bisa melawannya.

Sel kanker memiliki kemampuan untuk berkamuflase sehingga mereka tidak terdeteksi sejak awal oleh sistem imun.

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa imunoterapi secara signifikan telah meningkatkan kemungkinan hidup pasien kanker paru. Meskipun sudah berada di stadium 4, pengendalian sel kanker di dalam tubuh pasien akan menjadi jauh lebih baik karena terapi itu.

Seorang pasien di PCC yang merasakan manfaat imunoterapi adalah pasien dari India bernama Sanklecha (56). Kemoterapi yang sebelumnya dilakukan ternyata memiliki efek samping dan tidak cocok dengan kondisi tubuhnya yang menderita diabetes.

Terapi imun itu sudah mulai memperlihatkan dampaknya sehingga ia sudah bisa kembali bekerja, dari yang sebelumnya berhenti total karena menjalani perawatan kanker. Ia pun menyadari bahwa dukungan keluarga sangat membantunya untuk mencapai kesembuhan.

Sebaiknya, kanker segera ditangani sejak dini. Saat kita tahu ada masalah atau ketika kita melihat tanda dan gejala, langsung periksa serta jangan mengabaikannya. Tuhan telah memberikan anugerah agar kita dapat mengetahuinya lebih awal supaya bisa menjalani perawatan yang tepat.


Kenali Dua Tipe
Secara umum, ada dua tipe kanker paru berdasarkan bentuk selnya. Chin Tan Min dari Parkway Cancer Centre Singapura mengatakan, kedua tipe itu memiliki cara kerja yang berbeda pada tubuh pasien.

Berikut ini penjelasan dari Chin Tan Min yang merupakan dokter onkologi medis supaya kita bisa mengenali dua tipe kanker paru. Pengenalan tipe kanker akan menentukan terapi yang tepat untuk mencapai kesembuhan.

Kanker paru dengan sel kecil
Small cell lung cancer (SCLC) atau kanker paru dengan sel kecil jumlah persentasenya sedikit, sekitar 15% dari jumlah keseluruhan pasien kanker paru. Kebanyakan pasien SCLC merupakan perokok aktif.

Tipe kanker ini paling agresif sehingga sel kankernya bisa menyebar dengan cepat ke berbagai organ di dalam tubuh. Oleh karena itu, tingkat kesembuhannya - apalagi pada pasien dengan stadium lanjut - menjadi lebih rendah dibanding tipe lainnya.

Kanker paru bukan sel kecil
Non-small cell lung cancer (NSCLC) adalah tipe yang sangat umum dengan sifat kanker yang tidak terlalu agresif. Ada sekitar 85% pasien kanker paru yang memiliki tipe NSCLC.

Perawatan kanker paru tipe NSCLC bergantung pada stadiumnya. Biasanya, perawatannya meliputi operasi, radioterapi, atau terapi yang lebih sistemik seperti kemoterapi, terapi bertarget, atau terapi imun. [Vebertina Manihuruk/Maman Soleman]



Maman Malmsteen
Maman Malmsteen Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Posting Komentar untuk "Tangani Kanker Paru Sejak Dini"

Follow Berita/Artikel Sumber Informasi di Google News